Manusia telah merusak Bumi dengan kecepatan yang tidak diduga
sebelumnya. Hal ini meningkatkan resiko kerusakan alam yang bisa
mengakibatkan munculnya penyakit, kekeringan, atau "zona mati" di lautan,
demikian disebutkan dalam sebuah laporan internasional hari Rabu (30/1).
*
Penelitian yang melibatkan 1.360 ahli dari 95 negara ini menyebutkan bahwa
naiknya populasi manusia selama 50 tahun terakhir telah meningkatkan
pencemaran dan eksploitasi berlebih terhadap dua pertiga sistem ekologi yang
menjadi tumpuan kehidupan.
"Aktivitas manusia telah merusakkan fungsi alami Bumi dan kemampuan
eskosistemnya sehingga barangkali tidak akan ada yang tersisa bagi generasi
mendatang," ungkap laporan Millennium Ecosystem Assessment.
Disebutkan, sepuluh hingga 30 persen mamalia, burung, dan jenis-jenis amfibi
telah terancam punah. Ini adalah tanda menurunnya dukungan bagi kehidupan di
planet kita.
"Selama 50 tahun terakhir, manusia telah mengubah ekosistem secara lebih
cepat dan meluas dibanding waktu lain dalam sejarah. Pertumbuhan permintaan
makanan, air, kayu, serta, dan bahan bakar belum pernah sebanyak jangka
waktu itu," demikian laporan menyebutkan. "Ini mengakibatkan hilangnya
keanekaragaman kehidupan di Bumi."
Dicontohkan, sejak tahun 1945, semakin banyak tanah yang berubah menjadi
lahan pertanian atau pemukiman dibandingkan sepanjang abad 18 dan 19.
Mengenai hal itu, sekretaris jenderal PBB, Kofi Annan mengatakan penelitian
ini menunjukkan bagaimana aktivitas manusia bisa menyebabkan kerusakan
lingkungan dalam skala luas di seluruh dunia. Ia menyebutkan juga bagaimana
unsur-unsur dasar kehidupan di Bumi mulai rusak dengan kecepatan yang
memprihatinkan.
Bila kerusakan tidak segera di atasi, maka di masa depan akan banyak
penyakit muncul. Panasnya danau-danau besar di Afrika karena perubahan iklim
misalnya, akan bisa menyebabkan tersebarnya penyakit kolera. Sedangkan
buangan pupuk dari pertanian yang masuk ke laut akan menyebabkan timbulnya
zona mati di sepanjang pesisir.
Disebutkan, penebangan hutan juga bakal mempengaruhi curah hujan. Dan dalam
titik tertentu, kurangnya hujan akan mempengaruhi kondisi lahan di suatu
wilayah.
Oleh karenanya, penelitian ini mendesak pada berbagai pihak agar mengubah
konsumsi terutama berkaitan dengan bahan bakar dan limbah yang ditimbulkan.
Diperlukan juga adanya pendidikan lebih baik mengenai lingkungan, serta cara
baru untuk mengolah kekayaan alam. *(Rtr/wsn)*
Senin, 23 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar